Feature
PEREMPUAN PENGAIS REZEKI DI PASAR KRAMAT JATI (1)
Ditulis oleh Anastasia Ika / Ilandra   
Rabu, 13 Februari 2013 10:51
Indeks Artikel
PEREMPUAN PENGAIS REZEKI DI PASAR KRAMAT JATI (1)
PEREMPUAN PENGAIS REZEKI DI PASAR KRAMAT JATI (2)
PEREMPUAN PENGAIS REZEKI DI PASAR KRAMAT JATI (3)
PEREMPUAN PENGAIS REZEKI DI PASAR KRAMAT JATI (4)
Seluruh halaman

altPagi di Pasar Induk Kramat Jati adalah rangkaian waktu yang sangat sibuk. Teriakan terdengar di mana-mana. Orang-orang saling tawar harga. Beberapa pedagang lelaki berkumpul sambil menanti pelanggan. Di deretan kios buah-buahan, tampak sejumlah perempuan berselendang sibuk memilih jeruk, kelengkeng dan pepaya

 

“Nah, yang seperti ini biasanya tidak manis. Terlalu banyak air,” sahut Tuti yang berlutut sambil menekan buah jeruk di tangan kanannya. Ia lalu memasukkan buah-buah pilihan ke dalam bakul di dekat kakinya. Setelah membayar buah ke pemilik kios, Tuti kembali berlutut. Ia melingkarkan selendang bercoraknya ke sekeliling bakul. Sisa untaian selendang diikat di depan dadanya, seperti menggendong anak di belakang punggung. Ia lalu berdiri dan berjalan menggendong bakul seberat hampir 8 kg.

 

Setiap pagi, ketika langit masih gelap, Tuti berjalan kaki dari rumah kontrakannya di Pasar Minggu ke Pasar Induk Kramat Jati. Ia tidak sendiri. Bersama Tuti, berjalan pula Aminah, Sari dan Nani. Keempatnya berjalan kaki sambil menanggung bakul. Tuti dan sari berasal dari Brebes, Jawa Tengah. Sedangkan Aminah dan Nani merupakan warga asli Karanganyar, Jawa Tengah.

 

Keempatnya mengontrak rumah petak di daerah Pasar Minggu, dengan harga sewa Rp200 ribu per bulan. “Berat kalau tinggal sendiri. Kalau berempat kan lebih enteng, cuma Rp50 ribu setiap bulan,” cerita Nani tentang sistem pembayaran rumah kontrakan mereka. Suami, dua anak dan dua cucu Nani tinggal di daerah Karanganyar. Biasanya Nani bertemu mereka saat Lebaran. “Saya itu kalau pulang kampung tidak pernah lama. Paling cuma seminggu,” kisahnya.

 

Meski jarang bertemu, namun Nani dan keluarganya tetap menjalin komunikasi lewat hubungan telepon. “Saya sering menanyakan kabar cucu atau ternak kami ke suami,” papar perempuan 52 tahun itu sambil membetulkan letak selendangnya.

 


 

altMatahari mulai bergerak ke atas kepala. Cuaca semakin panas. Tuti, Nani dan rekan-rekan mereka yang lain mulai membereskan bakul-bakul. Beberapa bakul kosong ditumpuk dan diikat dengan seuntai tali putih. Duduk agak menjauh dari para perempuan penjual buah, Aminah memijat kaki kanannya. “Kemarin terkilir waktu sedang keliling kampung,” paparnya.

 

Ya, Aminah dan rekan-rekannya setiap hari berjualan keliling kampung di daerah Kebagusan, Jakarta Selatan. Mereka menumpang mobil bak terbuka yang setiap siang menjemput Aminah dan kawan-kawan di dekat deretan kios kolang-kaling, Pasar Induk Kramat Jati.  Sopir mobil bak terbuka mengantar mereka hingga Pasar Minggu. Dari titik penurunan itu, Aminah dan kawan-kawan lalu berjalan keliling kampung. Masing-masing memiliki rute yang berbeda.

 

Aminah, misalnya, berkeliling di beberapa kampung di Kebagusan Utara. Mereka akan pulang pada sore hari, dengan bakul yang sudah kosong atau masih terisi buah. “Kalau masih ada buah, kami jual lagi di warung-warung kecil di sekitar kampung,” terang Tuti. Dalam sehari, mereka bisa memperoleh pendapatan sekitar Rp120 ribu.

 

Lelah, sudah pasti. Namun, itu semua menghilang ketika mereka sampai di rumah kontrakan. Dalam rumah dengan dua kamar kecil itu, para perempuan penjual buah keliling akan bertukar cerita. Kadang-kadang hingga malam.

 “Sudah ya. Kami jalan dulu,” kata Nani kepada Sekar sebelum dirinya pergi. Ia dan beberapa perempuan lain kemudian naik ke bagian belakang mobil bak terbuka. Mobil itu menjauh. Para perempuan penjual buah melambaikan tangan sambil tersenyum.

 

 

BUAH BUSUK SUMBER KEHIDUPAN

 

Pasar Induk Kramat Jati tidak hanya riuh suara serta warna-warni buah dan sayuran segar. Pasar ini, mengingat kehadirannya, juga ramai sampah. Sejak subuh, para pedagang sudah sibuk mengangkut tumpukan kulit jagung, tempurung kelapa, juga sayur dan buah-buahan busuk atau yang kualitasnya kurang baik.  

 

Di Pasar Induk Kramat Jati, sayur dan buah-buahan dalam kategori terakhir disebut dengan singkatan “BS”. Mereka menumpuk kulit, tempurung dan BS di mulut-mulut jalan dalam area pasar. Menurut Indra, salah satu petugas keamanan di Pasar Induk Kramat Jati, tumpukan sampah itu setiap hari “dirapikan” menggunakan sebuah traktor. “Biasanya menjelang pukul 11.00,” katanya di pos patroli Pasar Induk Kramat Jati.

 

Pagi itu, ketika menelusuri jalanan dalam area pasar, Sekar menghadapi suasana yang cukup miris. Di dekat tumpukan sampah, berdiri seorang perempuan berdaster dengan sebilah pisau di tangan kanannya. Ia, Maimunah, membungkukkan tubuhnya di atas tumpukan sampah. Ia menebuk-nebuk tumpukan buah-buahan busuk. Maimunah lalu berlutut dan memperhatikan satu buah tomat.

 

“Ini masih bisa dimakan,” katanya. Ia lalu memasukkan tomat itu dan beberapa buah lain ke dalam karung. Sayur dan buah BS dalam karung kemudian akan dicucinya. Ia akan membawa buah dan sayuran itu ke beberapa warung kecil di sekitar Pasar Induk Kramat Jati. “Buah-buahan ini saya jual lagi. Sisanya saya makan,” sahut perempuan 45 tahun asal Kebumen tersebut.

 

Begitulah yang dilakukan Maimunah dan sang suami setiap pagi. Pasangan itu menanti sampah menggunung, lalu mulai mencari yang menurut mereka masih layak dijual lagi. Bau menyengat tak lagi diacuhkan. Bila hidung mulai tak bisa kompromi, maimunah akan berdiri. Ia membuka kain penutup mulutnya dan mengambil banyak-banyak napas.

 

Mereka menyisir satu mulut jalan ke yang lain. Karung-karung yang dibawa mulai merosot, karena beban yang semakin berat. Tapi mereka terus berjalan. Maimunah dan Edy belum akan berhenti mengais dan mencungkil, hingga suara traktor mulai berdengung. “Kalau enggak begini, ya, kami enggak bisa makan,” sahut Edy, sang suami.

 

Selesai di Pasar Induk, mereka melanjutkan perjalanan ke Pasar Ikan Kramat Jati. Bertahun-tahun lalu, kata Maimunah, ia dan suaminya kerap membawa bekal makanan. Namun, sekarang tidak lagi. “Kadang-kadang saya terlalu lelah untuk memasak sebelum berangkat. Jadi, kami beli makanan saja di warung atau ambil dari karung,” kata Maimunah sambil melongok ke dalam karung di sampingnya.

 

Mainumah dan Edy tinggal di Jakarta sejak 20 tahun lalu. Mereka hidup berdua, tanpa anak. Maimunah awalnya bekerja sebagai karyawan sebuah pabrik di Jakarta Timur. Sementara Edy bekerja sebagai buruh bangunan.

 

Entah apa sebabnya, Maimunah lalu mengundurkan diri dari tempatnya bekerja. Edy tidak lagi menjadi buruh bangunan, setelah merasa raganya tidak lagi sekuat dulu. Maimunah tidak pernah berpikir akan mengais sampah di Pasar Induk Kramat Jati. Tapi, ia harus melakukannya. “Ini pilihan paling mudah demi kelangsungan hidup kami berdua,” katanya

 

Traktor mendorong tumpukan sampah ke satu titik pembuangan. Maimunah memandangi traktor, lalu membantu Edy berdiri. Ia menemani Edy yang mulai tampak kelelahan ke satu lapangan kecil di bawah deretan pohon-pohon besar. Ia lalu memberikan botol plastik berisi air putih ke sang suami, memintanya untuk minum.

 

 


 

altHARI TUA NENEK SITI

 

Siti merapikan duduknya. Tangannya yang kurus dengan cekatan melepaskan tangkai-tangkai cabai merah keriting. Sesekali ia menyibakkan rambut-tambut putih yang jatuh ke mukanya. Ketika sudah mulai kelelahan, ia akan berdiri, menggerak-gerakkan tangan dan kaki seperti orang yang sedang melakukan pemanasan sebelum berolahraga.

 

“Mata dan tangan saya ini seperti mati rasa. Tidak lagi terasa perih meski berjam-jam mengupas bawang merah atau memotong tangkai cabai,” katanya pada suatu pagi di sudut Pasar Induk Kramat Jati. Setiap pagi, mulai pukul 04.00, Siti dan belasan perempuan lain berkumpul di banjar pengupasan bawang merah, Pasar Induk Kramat Jati. Mereka mengobrol, bercanda dan tertawa sambil menanti kedatangan utusan pedagang yang membawa berkarung-karung bawah merah dan cabai. Pisau siap di tangan kanan mereka.

 

Ketika karung-karung diturunkan dari mobil, mereka akan menghambur dan memilih ruang duduknya masing-masing. Tangan dan pisau segera bekerja. Pagi itu pisau Siti tak terpakai, karena ia ditugaskan untuk memotong tangkai cabai, bukan mengupas bawang merah. Artinya, tangan Siti yang langsung bekerja.

 

“Ya begini. Sering ada permintaan mendadak. Saya bahkan enggak tahu bakal terima upah berapa. Kalau (mengupas) bawang merah sih dapat Rp500 per kg” kata Siti. Peluh mulai membasahi mukanya. Raut-raut yang timbul menyiratkan betapa tua harinya kini. “Usia saya 92 tahun. Tua kan? Saya bahkan pernah empat kali diberitakan meninggal,” ujar Siti diselingi tawa.

 

Siti meninggalkan Tegal sekitar 30 tahun lalu. Ia berdesak-desakan dalam kereta api ekonomi, tidur di atas lembaran koran yang sebelumnya terinjak-injak kaki penumpang dan berkhayal tentang masa depannya di Jakarta. “Ini memang jauh dari khayalan saya. Tapi harus tetap bersyukur, wong masih bisa makan nasi,” paparnya.

 

Pasar Induk Kramat Jati adalah rumah Siti. Ia bekerja, makan dan tidur di situ. Muslimah, salah satu pemotong tangkai cabai pagi itu bercerita, ia dan teman-temannya sering mengajak Siti tinggal bersama mereka dalam sebuah rumah kontrakan. “Tapi Nenek enggak mau. Ia ingin tinggal di sini saja. Katanya ia enggak bisa tidur kalau enggak mencium bau pasar,” terang Muslimah.

 

Tidakkah Siti rindu pulang ke Tegal? Rindu, katanya. Namun, badannya sudah tak kuat lagi jika harus berjam-jam duduk dalam kereta atau bus malam. “Saya di sini saja. Ini kan rumah saya juga,” sahutnya. Ia menarik napas panjang. Tangannya mengusap peluh pada muka, lalu kembali melepaskan tangkai-tangkai cabai.

 

Kehidupan para perempuan di Pasar Induk Kramat Jati menggambarkan betapa kerasnya kehidupan di Jakarta. Namun, mereka tak pernah menyerah. Pilihan hidup sudah di tangan. Mereka siap menjalani semuanya. Hidup mati mereka ada di Pasar Induk Kramat Jati.

 


 

altPara Perempuan Kuat

 

Tak hanya di Pasar Induk Kramat Jati, sekelompok perempuan yang berasal dari Sumatra Utara pun rela mengangkut beban berat di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Sudah belasan tahun kelompok perempuan yang disebut “inang” ini menjadi kuli panggul di sana. Kasur, televisi, hingga lemari menjadi “santapan” mereka setiap hari. Mereka harus memanggul benda-benda itu dari tempat parkir pelabuhan hingga ke atas kapal.

 

Para inang tak peduli betapa beratnya benda-benda itu. Semua mereka lakukan demi sesuap nasi dan membiayai anak-anak. Kehidupan mereka pun jauh dari kata layak. Mayoritas para inang tersebut tinggal di sekitar di rumah-rumah semi permanen di dekat Pelabuhan Tanjung Priok. Bau dan jorok, begitulah lingkungan sekitar tempat mereka tinggal.

 

Namun, rasa kapok tak pernah singgah di benak mereka. Para inang tetap akan menjadi kuli panggul di tinggal di wilayah itu sampai kapan pun. Sebab, ini sudah menjadi jalan hidup mereka. Jalan hidup yang mereka putuskan untuk merantau dari kampung dan mengejar mimpi di Jakarta. Walau pahit mendera.

 

Add comment


Security code
Refresh

KompasGramedia
Copyright © Majalah Sekar, All Rights Reserved 2014.
KompasGramedia